Senin, 05 Januari 2009

Norwegian Wood

Ada cerita panjang yang jadi latar belakang saya membaca buku Norwegian Wood. Begini, sebetulnya sudah cukup lama saya menemukan novel karya Haruki Murakami ini di toko buku langganan. Hanya saja buku yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris yang diterjemahkan dari Bahasa Jepang ini kurang menarik minat. Ketakutan akan kualitas terjemahan yang buruk masih membayangi, setelah membaca Misteri Soliter (Jostein Gaarder) dan membeli The Name of The Rose (Umberto Eco) yang sampai saat ini masih belum habis dibaca.

Satu-dua tahun kemudian, seorang teman menanyakan kepada saya yang sedang sedih berat, “Apa kamu sudah baca novelnya Haruki Murakami?”

Saya menggeleng, si teman itu terdiam. Jelas tanggapan saya menutup sebuah kemungkinan obrolan panjang. Untuk menebusnya saya lantas bertanya, “Apa kamu sudah baca Ryu Murakami?”

Giliran dia yang menggeleng. Kami pun membincangkan topik lain.

Beberapa minggu kemudian, saya kembali berkesempatan mengobrol dengan teman yang sama. Kali ini saya tidak sesedih ketika pertama kali topik Haruki Murakami keluar. Kami berbicara, tetapi keakraban yang muncul tidak seperti yang saya harapkan. Saya mengeluh langsung kepadanya bahwa ia bahkan tak membuat kontak mata dengan saya. (Kepercayaan diri saya termasuk agak rendah.) Ia menyangkalnya. Suasana pun menjadi tidak enak. Setelah berbasa-basi dengan teman-teman lain yang juga duduk semeja dengan kami, si teman itu lantas menanyakan, “Apa kamu sudah baca Haruki Murakami?”

Saya menyahutinya dengan sebal, “Dan apa kamu sudah baca Ryu Murakami? Bagaimana, sih? Kita kan sudah membicarakan ini sebulanan yang lalu!” Dan suasana pun menjadi semakin tidak enak.

Keesokan harinya, saya langsung menyesali sikap buruk saya. Saya pikir-pikir memang salah teman saya itu apa sih? Tidak ingat small talk yang dibuat lebih dari dua minggu yang lalu? Juga kalau saya betul-betul menginginkan agar ia membuat kontak mata, mengapa saya tidak menunjukkan minat pada topik yang ingin dibicarakannya, misalnya Haruki Murakami? Alih-alih saya malah membunuh semua dialog yang bisa saja terjadi di antara kami. Saya memang sering konyol.

Saya lantas mencari Norwegian Wood ke tempat penyewaan buku langganan, hasilnya nihil. Tidak kehabisan akal, saya menghubungi teman saya yang biasa mengoleksi novel-novel berat. Ternyata ia juga tidak punya, tetapi ia tahu tempat penyewaan yang menyediakan novel tersebut. Dan begitulah bagaimana saya bisa sampai membaca Norwegian Wood.

Norwegian Wood, novel ini dinamakan sama seperti lagu The Beatles, ‘Norwegian Wood (The Bird Has Flown)’, dari album Beatles favorit saya Rubber Soul. (Sebetulnya Norwegian Wood bahkan bukan lagu favorit saya, saya lebih suka ‘Nowhere Man’, ‘Michelle’, ‘I’m Looking Through You’, ‘In My Life’, atau ‘Run for Your Life’.) Alkisah tokoh utama dalam novel ini, Watanabe (37 tahun), terkenang akan masa lalunya ketika mendengar alunan lagu Norwegian Wood di perjalananannya menuju Jerman. Sebuah masa lalu yang suram tetapi tidak membosankan.

Pembaca Norwegian Wood lantas diajak melihat gambaran kehidupan anak muda di Jepang pada dekade 1960-an dengan Watanabe sebagai pengarahnya. Pada awal cerita, Watanabe adalah laki-laki berusia delapan belas tahun yang ingin memulai kehidupan baru setelah sahabatnya di kampung bunuh diri. Menghindari persaingan ketat memasuki perguruan tinggi negeri di Jepang, ia memilih melanjutkan studinya di jurusan Teater sebuah universitas swasta biasa di Tokyo. Watanabe pun tinggal di sebuah asrama, dari sini ia mulai bertemu dan tanpa disadari menjalin keterikatan dengan teman-teman tidak biasa dengan masalah dan keunikan mereka masing-masing. Teman-teman Watanabe seperti mewakili karakter anak-anak muda di Jepang, mulai dari yang depresi, dingin, ceria, sampai yang kesepian.

Norwegian Wood bukanlah novel yang sulit dibaca. Terjemahan Bahasa Indonesianya memang setebal 550 halaman, tetapi untuk menyelesaikannya saya hanya butuh waktu enam hari. Itu pun sambil membaca buku lain. Dapat dikatakan terjemahan Bahasa Indonesianya tidak mengecewakan. Selain itu Haruki Murakami ternyata adalah pengarang yang memang tidak layak untuk dilewatkan. Selain deskripsinya yang sederhana tetapi kuat, pada umumnya karakter Murakami adalah anak muda-anak muda yang merasa teralienasi dari kebudayaan dan perkembangan Jepang yang begitu pesat pada dekade 60-an. Melalui karakter yang hidup dan sangat mengidentifikasi tersebut, Murakami seperti menelaah dan mengkritisi kebudayaan Jepang. Sedikit banyak, Norwegian Wood mengingatkan saya pada komik 20th Century Boys dan film Lost in Translation.

Ada banyak referensi pop dalam Norwegian Wood, mungkin mewakili selera Murakami. Dengan asumsi tersebut seorang teman saya yang lain menyimpulkan bahwa novelis itu menyukai banyak jenis musik, berkisar di daerah pop, rock, folk, dan jazz. The Graduate disebut-sebut beberapa kali, sekali secara langsung, dan sekali lagi secara implisit. Meskipun Watanabe dikisahkan menganggap film yang disutradarai Mike Nichols, dibintangi Dustin Hoffman dan Anne Bancroft, itu tidak istimewa, tetapi saya yakin The Graduate berkesan bagi Murakami sampai-sampai ia menyebutnya berkali-kali.

Ketika selesai membaca Norwegian Wood, saya kembali berkesempatan bertemu dengan teman yang menanyakan apakah saya membaca Haruki Murakami. Saya menyapanya dan menceritakan kalau saya sudah membaca Norwegian Wood. Saya betul-betul berusaha memancing keluarnya pembicaraan dari topik ini: menceritakan tokoh mana yang saya suka dan tidak suka (Saya teridentifikasi dengan Midori, tetapi saya bilang suka Naoko.), menanyakan adegan mana yang paling ia ingat, mengulang alur cerita, dan menanyakan apa makna akhiran novel ini kepada teman saya itu. Ia lantas menceritakan pengalamannya membaca novel Haruki Murakami yang lain, Kafka on the Shore; dan bagaimana ia membeli After Dark di Periplus di mana itu adalah buku satu-satunya. Selesai mengobrol, saya lantas pulang ke rumah dengan merasa lega. Paling tidak sekarang ia telah melihat sisi saya yang sedikit lebih waras.

4 komentar:

  1. Jadi selama ini kamu menganggap dianggap tidak waras oleh temanmu itu?

    BalasHapus
  2. ummm... posting yg menarik.
    tau ga kalo norwegian wood mau di buat film na?

    BalasHapus
  3. Tengkyu. Mudah-mudahan filmnya bagus ya...

    BalasHapus