Kamis, 01 Desember 2016

Muria

Jelang Muria menghabiskan potongan Pizza terakhirnya, tawa pecah dari sudut meja yang lain. Seperti biasa, sahabatnya Joy melontarkan lelucon yang tidak terduga orang-orang karena disamarkan menjadi cerita sedih. Muria berseri-seri, dia bertemu Joy ketika rambut mereka masih hitam dan belum ada garis-garis yang tidak hilang dari wajah mereka. Namun selera humor Joy masih sama, Muria yakin, Pizza di piring Joy masih hangat meskipun sudah tinggal sedikit.

Di depan setiap orang ada sepiring Pizza yang mesti mereka habiskan. Kursi di sebelah kanan Muria ditempati Gracie, cucu Joy yang berusia sembilan tahun. Gracie memainkan Pizzanya yang masih tersisa banyak, menyisihkan brokoli dan wortel ke sisi Pizza. Muria mengedipkan salah satu matanya kepada Gracie, seolah mereka melakukan kenakalan bersama.

"Nenek aneh," ujar Gracie. "Brokoli dan wortel kok dicampur dengan Pizza."

"Joy mau kamu tumbuh sepertinya," sahut Muria.

Mata anak perempuan itu membulat. "Sayurannya pasti kumakan!" serunya. "Tapi nanti." Muria mengangguk maklum, Gracie memang masih punya banyak waktu.

Adik Muria, Martel, duduk di sebelah kirinya. Pizzanya sedikit lebih banyak daripada Muria, tapi Martel memakannya dengan malas-malasan. Tidak banyak lagi daging dan keju yang tersisa di atasnya. Martel sudah menghabiskannya ketika usianya masih muda.

Mata Muria menangkap wajah Lucia, yang sedang termenung di seberangnya. Sesungguhnya, perjamuan ini ialah perayaan ulang tahunnya yang ke-28. Namun ekspresi wajahnya tidak mudah tertebak, antara sedih atau terharu.

"Pizzamu enak, Lucy?" tanya Muria.

Senyum kecil terbit di wajah itu. "Potongan yang baru kumakan pahit sekali. Aku mencoba meletakkan urap di atas Pizza ... ternyata rasanya kurang cocok." jawab Lucia. "Tapi aku jadi tahu bagaimana rasanya. Aku juga makin bersyukur karena ingat lagi betapa lidahku mampu mengecap rasa-rasa yang lain .... Kalau Kakek, bagaimana rasa Pizzanya?"

Muria terdiam sejenak, dia tidak menyangka akan ditanyai begitu. "Mmm ... enak ...."

"Enak saja!" sahut Lucia dengan nada 'Yeah right'. Meskipun memanggil 'kakek', Lucia berbicara kepada Muria sebagaimana kepada teman sebayanya.

"Iya enak ...." ujar Muria, pandangannya kini tertuju kepada piringnya yang sebagian besar kosong. Senyum Lucie semakin lebar karena Muria kelihatan salah tingkah.

"Sejujurnya sekarang kakek jadi lebih memperhatikan gambar-gambar di piring yang sudah tidak terisi Pizza lagi. Buat orang pemalu dan rumahan seperti kakek, ternyata banyak wajah yang pernah Kakek jumpai, banyak tempat yang pernah disinggahi. Kakek nggak menyangka semuanya bakalan seramai ini ...." Muria melihat pemandangan di sekelilingnya. "Dulu kakek bahkan nggak pernah bermimpi suatu hari akan dipanggil kakek ...."

Muria kembali menatap piringnya, diam-diam menghapus genangan di pelupuk matanya. Dia menyadari, di balik potongan Pizza terakhirnya, sebentar lagi, akan muncul wajahnya sendiri.


(Tulisan ini ditulis pada pertemuan Couchsurfing Writer's Club, Kamis (24/11) lalu. Dea, host pada hari itu, menyiapkan berbagai kutipan tentang Pizza untuk kami tanggapi. Prompt ini sebetulnya disiapkan sejak beberapa minggu lalu, sebelum kami mengadakan pertemuan di sebuah restoran Pizza, tapi ternyata ada perubahan agenda. Supaya pizzanya tidak mubazir, kami lantas jadi menggunakan prompt ini.

Karya yang lain lucu. Dea bercerita tentang pizza yang terbuat dari segala hal membahagiakan, yang lantas jatuh dari bulan menimpa seorang yang beruntung. Arta menggambar. Ryan berandai-andai dirinya Pizza. Setelahnya, Arta mengusulkan supaya kami bercerita 'live', idenya jadi semakin lucu lagi.

Kutipan yang saya dapat: A Pizza is a circle of life. )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar