Rabu, 22 Februari 2017

Jelang Bincang Buku Semua Ikan di Langit


Sabtu nanti (25/2), saya diundang jadi salah satu pembicara dalam bincang buku Semua Ikan di Langit, novel karya Ziggy yang jadi pemenang pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016.Nama saya ada di sana: "Andika Budiman ... yang bersedia membersihkan saluran air yang mampet." Ziggy tidak hanya penulis dan sahabat yang baik, tapi juga berjasa telah memberi peluang karier bagi saya sebagai tukang ledeng.

Saya nggak tahu bagaimana mulanya saya bisa dekat dengan Ziggy, bisa menyayanginya seperti sekarang. Kami pertama bertemu saat saya masih bekerja di sebuah penerbit, sebagai editor lini remaja. Salah satu produk andalan lini kami adalah seri buku horor dan fantasi yang ditulis oleh remaja, dan ditujukan juga kepada remaja. Ziggy merupakan salah satu penulis dalam seri buku itu. Buku karya Ziggy telah memukau pembaca anak dan remaja jauh sebelum memukau dewan juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta. Penuturan cerita Kak Ziggy khas, pembaca cepat mengenalinya, antara lain, karena latar dan tokohnya kaya akan detail. Dia tidak hanya menciptakan dunia yang hidup di atas kertas, melainkan juga di benak kami. Pembaca diajak buat menyusuri dan meraba-raba jalan cerita yang dibangun Ziggy tanpa tahu di mana ujungnya. Hampir selalu, kami berakhir di tempat yang sama sekali tidak terduga.

Awalnya, saya membaca karya Ziggy dengan alasan pekerjaan, bukannya kesenangan. Saya mulai menyimak cerita Ziggy dengan cermat, ketika salah satunya melebihi ketentuan jumlah halaman seri buku lini remaja. (Waktu itu, sebetulnya Ziggy juga sudah tidak berusia remaja.) Tugas saya memangkas cerita Ziggy--tugas yang kemudian saya sadari sulit karena jarang ada kata di dalam cerita Ziggy yang sia-sia.

Di penerbit kesayangan saya itu (yang saya percaya juga kesayangan Ziggy), ada ketentuan tentang apa yang boleh dan tidak boleh terbit. Jadi editor punya banyak kesempatan untuk berkomunikasi dengan penulis selama proses editing naskah. Saya mulai berkorespondensi via email dengan Ziggy, membahas naskahnya. Ya ampun, kegiatan itu asyik sekali! Respons Ziggy cepat, hangat, dan kaya emoticon. Dia pun terbuka dengan masukan. Berhubungan dengan penulis yang punya sesuatu untuk dikatakan, dan punya kemauan untuk menyampaikannya kepada pembaca, adalah kesenangan saya ketika bekerja sebagai editor. Ziggy bukan satu-satunya penulis yang begitu. Ada sederet penulis remaja yang menulis dengan berbeda, tapi punya semangat serupa. Saya berharap mereka senantiasa menemukan makna dan kesenangan dari menulis dan membaca.

Akan tetapi, ada satu hal yang membedakan Ziggy dari penulis lain yang saya hubungi. Penerbit kesayangan kami punya tradisi mengirim kartu lebaran kepada penulis dan relasi. Hal yang membedakan Ziggy dari penerima kartu lebaran yang lain itu adalah: dia satu-satunya yang membalas dengan kartu yang dibuatnya sendiri dengan ilustrasi cat air. Saya tergerak membalas kartu ucapan itu dengan surat yang saya tulis dengan tangan, dan saya gambar-gambar sendiri. Kali ini saya tidak membahas naskah yang ditulis Ziggy, tidak juga membahas pekerjaan. Saya bercerita saja, sebagaimana kepada kawan yang membuat hati saya nyaman, tentang diri saya, tentang segala yang saya sayangi.

Kartu lebaran dari Ziggy yang saya bingkai, di meja kerja saya yang lama.

Belakangan, menyayangi seolah jadi kegiatan yang tidak sederhana. Seseorang bisa dianggap bersalah karena dianggap menyayangi hal yang salah dengan cara yang dianggap salah. Surat-surat yang saya kirim kepada Ziggy berbalas sambutan yang hangat. Dia nggak membalasnya dengan anggapan benar atau salah. Dia nggak pernah menyuruh saya melakukan sesuatu. Dia berbagi cerita tentang dirinya dan hal yang disayanginya. Saya merasa Ziggy menyambut saya dengan penerimaan. Saya merasa mendapat sahabat baru. Kami mulai sering berjumpa dan melakukan kegiatan bersama. Semakin dekat dua orang, semakin besar pula kemungkinan terjadi pergesekan. Namun gesekan itu, suasana hati yang buruk, nggak mempengaruhi bagaimana saya menyayanginya. Karena saya percaya, sebagaimana cuaca, suasana hati senantiasa berubah. Saya juga percaya, menyayangi adalah menerima sifat orang lain yang cocok dan tidak cocok dengan diri saya, dan selalu percaya bahwa seseorang dapat berbuat baik dengan caranya sendiri.

Kemampuan berimajinasi saya terbatas. Mendengar kata 'menyayangi', seringkali yang muncul di benak saya adalah kasih sayang antar manusia, kasih sayang antara makhluk hidup, atau kasih sayang antara manusia dan barang mahal yang dimilikinya. Padahal mungkin ada bentuk kasih sayang yang lain, seperti yang terjalin antara benda mati dan si pencipta, seperti yang bisa kita simak dalam Semua Ikan di Langit. Saya menangkap pada dasarnya novel tersebut mengajukan pertanyaan, "Bagaimana menyayangi?"

Karena ada nama saya di Semua Ikan di Langit, ketika membacanya, saya berangan-angan itu merupakan surat panjang dari Ziggy yang ditulis untuk saya ... dan Genadi Aryawan. Di sana, kan, ada nama Genadi juga.

Namun, sesungguhnya tentu saja Semua Ikan di Langit ditujukan bagi Semua yang Ingin Membacanya. (Kasihan ikan-ikan di langit, bukan tidak mungkin mereka segera mengalami kepunahan lebih cepat daripada kepunahan burung Dodo. Namun seperti yang ditulis Ziggy: ikan bahagia kalau diolah jadi santapan enak.)

Pada bincang buku Semua Ikan di Langit nanti, saya akan hadir sebagai pembaca dan penyayang Ziggy. Bagaimana denganmu?

***

"Works of art are of an infinite loneliness and with nothing to be so little reached as with criticism. Only love can grasp and hold and fairly judged them."

Rainer Maria Rilke, sebagaimana dikutip ee cummings dalam i: six nonlectures.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar